Malang – Sebagai upaya menghidupkan kembali budaya permainan
tradisional di kalangan generasi muda, Museum Panji bekerja sama dengan mahasiswa
Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dari kelompok IDEFOR
menggelar lomba bertajuk SANDJIWA: Sayembara Pandji, Jiwa Warisan Nusantara,
Minggu (27/7) di Museum Panji, Tumpang, Kabupaten Malang.
Acara ini diikuti ratusan siswa-siswi dari SD/MI sederajat se-Kota dan Kabupaten
Malang, yang berlomba dalam delapan jenis permainan tradisional, antara lain: engklek,
congklak, bakiak, egrang, tarik tambang, lompat tali, bekel, dan bentengan.
Kegiatan dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan
Kabupaten Malang, Purwoto, yang mengapresiasi inisiatif mahasiswa UMM dan
Museum Panji.
“Kegiatan seperti ini sangat penting. Anak-anak kita sekarang lebih akrab dengan
gawai daripada permainan tradisional yang sarat filosofi. Saya sangat mendukung
agar kegiatan seperti ini diperluas di seluruh kecamatan,” ujar Purwoto.
Lomba ini juga memperebutkan piala dari Bupati Malang, sebagai bentuk dukungan
penuh dari pemerintah daerah terhadap pelestarian budaya lokal.
Ketua pelaksana kegiatan, Welly, menyampaikan bahwa SANDJIWA bukan sekadar
lomba, tetapi juga sarana edukasi bagi masyarakat.
“Kegiatan ini menjadi ajang permainan dan edukasi bagi masyarakat,
bahwasanya budaya kita memiliki keragaman yang sangat kaya,” tutur Welly.
Koordinator mata kuliah Public Relations UMM, Jamroji, juga menegaskan bahwa
permainan tradisional memiliki nilai pendidikan yang tinggi.
“Permainan tradisional adalah harta karun yang mengajarkan proses, bukan
instan. Nilai-nilai seperti kerja sama, ketangkasan, dan ketekunan bisa dibentuk
dari sini,” ujarnya.
Pendiri Museum Panji, Dwi Cahyono, turut hadir dan menegaskan pentingnya
permainan tradisional sebagai alat pendidikan alternatif.
“Kegiatan ini bisa menjadi cara untuk melawan arus individualisme akibat
teknologi, dan sebaiknya dijadikan program berkelanjutan oleh pemerintah
daerah,” ujarnya.
Acara SANDJIWA berlangsung meriah dan penuh semangat. Para peserta tidak hanya
bersaing, tetapi juga belajar tentang pentingnya kekompakan, strategi, serta pelestarian
budaya. Penyelenggaraan ini menjadi bukti bahwa kolaborasi antara kampus, institusi
budaya, dan pemerintah daerah mampu menghadirkan ruang edukatif yang
menyenangkan dan bermakna bagi generasi penerus bangsa.

